Wednesday, October 09, 2013

PATAH HATI

Dia renung wajah mulus yang terbit erti cinta
Jauh ke dalam hingga bergegar hatinya

 Dalam diam, dia pendam
Pada cinta yang selama ini dia kendong
Rupanya lopong
Penuh DUSTA
Dosa

Monday, August 05, 2013

RUMAH BOBROK

Rumah batu itu dindingnya sudah merekah,
Langsir merah makin usang dimakan terik mentari,
Tingkap, pintu, tidak terkuat menjemput angin

Dia duduk di kerusi panjang
Di ruangan yang sama dan sempit
Kadangkala merangkak dia ke bilik bersandar pada dinding,
Ditenung pada atap batu yang kosong dan berdebu,
Apa yang masih tinggal di situ cuma sepi dan rumah tiada bernyawa
Isinya masih derita, lagaknya berair mata

Secupak beras ditanak cuma sejemput dijamah
Secawan kopi dibancuh cuma sesudu dihirup
Dia kenang pada kasih bertaut tetap dengan benci
Di setiap hela nafas dia berhutang pada nasib
Celanya dia tidak lagi bertuankan hati
Eloknya dia bukan seorang yang memanggil mati

Rumah itu penuh bertuankan kisah
Tentang dia dan mereka yang masih berhutang pada nasib
Setiap kata disumpahkan pada dinding
Jadi arca kekal bukan mennjadi nobel
Puas sudah dia tebus dosa dan palingkan benci

Jelasnya ada ego untuk masih jadi penghuni
Cuma jiwa yang semakin lolos ikatan tali ...
dan rumah bobrok itu kekal sepi.

Friday, July 05, 2013

Apa yang ada?

Yang indah, sementara.
Yang busuk, berpanjangan.
Yang comel, penglipur lara
Yang baik, disimpan.

Ion positif, menjauh
Ion negatif, penuh
Rasa cinta, rapuh
Rasa sayang, melepuh.

Mari tatih, si kecil
Mari belai, si ibu
Mari lihat, si pemerintah
Mari MELINDUNG, Ya Allah, Ya Tuhanku.